Langsung ke konten utama

Ky dan Yan



Ky dan Yan
Dengan senyuman bak gula aren, Kana melambaikan tangan pada sosok cowok yang baru saja keluar dari mobilnya. Langkahnya semakin cepat untuk segera berdiri di hadapan cowok itu.
“Hai!” seru Kana ketika sampai di depan cowok yang sama sekali tidak menampakkan senyumnya sedikit pun.
Kana tak bergeming sesaat, di rasa ada yang berbeda. Kana berpikir harus segera menyampaikan maksudnya. “Ini, makasih ya,” kata Kana menyerahkan kunci motor pada cowok di depannya yang sedang menatapnya datar, bingung sekaligus acuh.
Cowok itu masih menatapnya,  kala ia menerima benda yang di berikan Kana. Baru saja cowok itu ingin bertanya, Kana sudah pergi karena merasa takut dan gelisah atas apa yang terjadi. Kana harus mencerna semuanya. Apa maksudnya coba, kemarin saja, cowok itu sangat baik padanya. Awal masuk kampus, cowok itu sudah membuatnya kagum karena sifatnya yang baik kepada semua orang, caranya berteman dan semua hal-hal kecil ia perhatikan. Hanya butuh waktu dua minggu Kana sudah bisa menyimpulkan isi hatinya bahwa ia kagum pada sosoknya. Tapi sepertinya simpulan itu runtuh seketika, bagai bangunan yang di obrak-abrik.
Sampai di aula kampus, Kana masih memikirkan kejadian aneh yang menimpanya. Bahkan Kana tak menemukan di mana cowok itu berada sekarang.
...
Di lain tempat. Sejak kejadian di parkiran tadi, membuat cowok itu tersenyum tipis bahkan tidak terlihat di mata teman-temannya. Lamunanya sektika terhenti kala suara tanya memasuki lubang telinganya.
“Tadi siapa, Yan?” tanya Aron.
“Tadi? Maksudnya?” ucapnya balik bertanya.
“Ck. Yang tadi kasih lo kunci.” Aron memperjelas.
“Oh.”
“Oh, doang!” decak Aron. “CEWEK YANG TADI SIAPA!?” Aron menatapnya kesal dan menekankan tiga kalimat terakhir.
“Pertanyaan loh gak ada jawabannya! Dan  gue gak tahu siapa cewek itu,” jelasnya.
“Tiba-tiba aja dia datang terus kasih gue kunci motor. Apa maksdunya coba? Modus kali ya?” lanjutnya.
Aron sedikit menahan tawanya, namun menit berikutnya ia tak dapat menahannya. Tawa Aron pecah, membuat cowok di sampingnya mengangkat alisnya.
“Apa tadi? Kunci motor? ... Hahahahahah ....” tawa  Aron kembali pecah.
Berpikir cukup lama. Membuat cowok di samping Aron  peka, ia mengerti maksud Aron. Tak menunggu waktu, tawanya juga ikut pecah bersama Aron.
...
“Serius?”
“Iya, ALFAREZA!”
“Cielah, gak usah marah kali,”
“Lagian kamu di ajak serius kok-
Alfareza membulatkan matanya dan menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak tertawa. Namun pada akhirnya meledak juga. “Hahahahahahaha ... Kana, sayang, hahahahaha ... “ Alfareza memegangi perutnya yang sakit melilit akibat tertawa.
Kana sendiri hanya diam dan menutupi wajahnya sampai makhluk yang bernama Alfareza berhenti tertawa. Sejak masuk kampus, Alfareza sangat gemas dengan Kana, cowok berparas tampan dan memiliki style yang keren ini sangat suka membuat mood Kana hancur, berbagai kejahilan yang di perbuat Alfareza hanya  untuk melihat Kana marah ataupun tersenyum. Meski begitu, Kana tetap setia menajdi teman manusia terjahil seperti Alfareza.
“Puas! Puas ketawanya,” cetus Kana.
“Iya, sayang. Aku minta maaf-
Alfareza menghentikan kalimatnya ketika mendapatkan serangan kecil dari Kana, yang di rasakan Alfareza adalah Kana sangat menggemaskan layaknya anak bayi baru lahir.
“Aku emang susah buat di ajak serius, sayang. Tapi-
“Ihhh, sakit, Na,” keluh Alfareza saat Kana menampol kepalanya, walau pelan rasanya tetap sakit.
“Maksud aku bukan serius yang seperti di otak kamu yang besar itu-
“Terus?”
Kana benar-benar di buat pusing dengan sosok Alfareza.
“Na, seandainya gue gak punya Fita, pasti lo udah gue jadiin pacar,” goda Alfareza
“Amit-amit!” potong Kana cepat.
Kana sangat kesal tingkat dewa. Ia kemudia berlalu meninggalkan Alfareza yang masih tertawa sampai terbahak-bahak.
...
“Nomor Whatshap Kana?” Dwiky menoleh dan mendapati sosok cowok yang sangat-sangat jarang mengajaknya bicara, bahkan setiap malam mereka berdua selalu beradu mulut. Kadang juga Dwiky tak meladeni ucapannya.
“Kana?” tanya Dwiky heran.
“Iya, Kana. Sekarang gue minta nomor What-
“Loh mau ngapain?”
“Gak penting.” Dengan cepat cowok itu merampas ponsel Dwiky dan menyalin nomor Whatshap Kana. “Thanks,” ucapnya pelan dan meletakkan ponsel Dwiky kembali pada posisi semula.
Dwiky mengeryitkan keningnya. Ia masih belum paham dan mencerna secara baik-baik. Ia bingung, bagaimana dia tahu tentang Kana. Perasaannya tidak enak mengenai Kana, Dwiky takut jika Kana sampai menjadi korban cintanya.
...
Kana sibuk dengan pikirannya, roti yang ia makan belum juga habis. Kana bingung, sejak kemarin ia selalu bertanya pada semua teman-temannya. Tetapi mereka tidak menjawab, hanya tawa yang mereka tunjukkan sebagai jawaban buat Kana.
Tiba di kampus, Kana di kejutkan dengan seseorang yang menyandarkan punggungnya di tembok depan kelas Kana Pagi ini. Masih dengan tatapannya yang kemarin, datar, dan sama sekali bukan Dwiky yang di kenalnya dua minggu terakhir.
Kana bimbang, ia harus menyapa atau bagaimana. Biasanya Dwiky lah yang menyapa terlebih dahulu. Tetapi ini sangat berbeda, Kana merasa ada sesuatuh yang ia tidak ketahui. Kana hanya mentapnya sekilas dan berjalan masuk ke kelasnya hari ini.
 Namun tiba-tiba Kana menghentikan langkahnya, seseorang lebih dulu mencekal pergelangan tangannya. “Tunggu.” Kana menoleh, kini pandangan Dwiky berubah lagi, lembut dan tidak dingin seperti kemarin.
“Bisa ikut gue?”
Ha? Gue, Kana membatin.
Di sinilah Kana berada. Di sinilah ia bersama seseorang yang sedari tadi membuatnya mengangga tak percaya.
“Jadi yang kemarin itu ... ?”
“Iya. Dwiyan, itu gue. Bukan Dwiky. Gue minta maaf, kemarin gue cuek.”
Kana tersenyum kikuk, “Gak papa, kan aku gak tahu. Dwiky juga gak pernah cerita.”
“Malu kali ngakuin gue!” terang Dwiyan.
“Kok ngomong gitu?”
“Gue itu beda banget sama Dwiky. Kata Bunda gue, Dwiky jauh melampaui kemampuan gue. Kata Papa gue juga sama, tapi keduanya masih sayang sama gue. Gue nakal, gue bandel, tapi lo harus percaya kenakalan gue gak seburuk pencandu Narkoba, kenakalan gue gak seburuk nyantai di Bar, lo gak usah takut sama gue. Gue masih manusia kok. Gue harap lo mau temenan sama gue. Karena jarang banget ya, jarang banget pokoknya  gue tertarik sama seseorang hanya karena insiden kecil seperti yang terjadi kemarin, lo dan gue di parkiran,” cerocos Dwiyan membuat Kana tertawa kecil.
“Udah ... “
Dwiyan menyambut senyum Kana, “Satu lagi ... LO CANTIK ...”
Deg, jantung Kana hampir saja melompat di buatnya.
Kana tersenyum kecil. Dwiky sangatlah berbeda dengan sosok di depannya saat ini. Mungkin Kana bisa menilai sosok Dwiky adalah sosok yang baik, periang dan tentunya juga dia kadang humoris kadang juga pendiam dan kelebihannya baik kepada semua orang, itulah nilai dari sosok Dwiky. Berbeda dengan Dwiyan, Kana belum bisa mendeskripsikan sosok Dwiyan. Kana merasakan ada kebahagian, tawa dan senyum terukir di bibirnya ketika Dwiyan mengeluarkan unek-uneknya. Bahkan Kana baru mengenal sosok Dwiyan hari ini. Dan Dwiyan sangat terbuka tentang kehidupan pribadinya, di lihat dari wajah, sosok Dwiyan  sangat dingin, cuek dan arogan. Tetapi Kana salah, justru penilaiannya terhadap Dwiyan sangat sulit di deskripsikan.
...
Kedekatan Dwiyan dan Kana sampai di telinga sahabat-sahabatnya, terutama Dwiky. Sekarang Dwiky tahu apa maksud Dwiyan meminta nomor Whatshap Kana waktu itu. Kini raut wajah Dwiky berubah seratus persen, entah kenapa dan apa yang membuatnya sakit, sakit saat sadar akan perasaannya. Tanpa meladeni perdebatan teman-temannya, Dwiky melangkahkan kakinya keluar kelas, entah kemana tujuannya.
Baru saja Dwiky hendak menaiki motornya, pemandangan yang tak seharusnya ia saksikan secara langsung. Kana tak lagi membalas pesannya, mungkin masih efek dari kesalah pahaman yang di ceritakan Dwiyan kemarin.
Flashback
“Hai kembaran gue,” kekeh Dwiyan yang tiba-tiba     merangkul erat pundak Dwiky, jelas membuat Dwiky tak percaya, bahkan Dwiky belum sepenuhnya percaya jika ini nyata.
“Sakit lo?” tanya Dwiky masih dengan pikirannya.
“Alhamdulillah, gue sehat dan sangat sehat.” Dwiyan memamerkan senyum pepsodentnya.
Tanpa basa-basi, Dwiyan dengan santai menceritakan semuanya pada Dwiky. Dwiky yang sedari tadi merasakan keganjalan, dan setelah mendengar ucapan Dwiyan, itu cukup membuatnya tertawa kecil dan membalas senyum hangat yang di pamerkan Dwiyan.
“Pantesan, chat gue gak pernah di balas.” Dwiky memanyungkan bibirnya.
“Sory”
Apa iya? Batin Dwiky.
Di sana, Kana tertawa dan di sampingnya ada Dwiyan yang juga ikut tertawa. Hari perdana, dimana Dwiky melihat Dwiyan tersenyum tulus dan sebahagia itu bersama Kana. Dwiky memutuskan pandangannya, ia kemudian berlalu dengan motornya.
Gue, bahagia, Yan, hari ini lo senyum.
...
Kana calling...
Dwiky tersenyum summeringah. Kana menelponya. Dwiky menekan tombol hijau dan menjatuhkan tubuhnya di king zize miliknya.
“Dwiky?” suara di seberang sana membuat sudut bibir Dwiky terangkat.
“Kana.”
“Maaf, Ky. Aku baru balas. Soalnya kemarin, ponsel aku rusak. Dan sekarang udah ganti yang baru kok!” seru Kana.
Dwiky merasakan sedikit kelegahan. Pikirnya Kana sudah melupakannya.
“Gak papa, Na. Jadi ceritanya pamer ponsel baru ni.”
“Gak bermaksud kok ... “ kekeh Kana yang terdengar jelas di telinga Dwiky.
“Iya. Ngerti kok.”
“Okedeh, aku tutup ya, aku Cuma mau pastiin kamu.”
“Ha? Maksudnya?”
“Na, maksudnya apa?”
“Lupain.”
Setelahnya Kana memutuskan telepon secara sepihak. Walaupun sepihak, Dwiky tetap merasa senang Kana menghubunginya dan mau memastikan keadaannya. Seperti itulah maksud dari Kana yang di simpulkan Dwiky.
...
Kedua orang tua Dwiyan merasakan perubuhan dari putranya yang satu ini. Bangun pagi, jarang pulang malam dalam seminggu terakhir, sebelum pergi pamit dan sarapan bersama kakaknya, perginya bareng Dwiky naik mobil.
Namun setelah mendengar cerita dari Dwiky, Bundanya mersa senang. Semoga saja Dwiyan benar-benar kembali dan merubah sifatnya.
Tiba di kampus Dwiyan segera menemui Kana, sedangkan Dwiky hanya tersenyum kecut melihat Dwiyan menarik tangan Kana menuju taman kampus. Apakah Dwiky harus merelakan Kana, demi Dwiyan.
...
Dwiky menghentikan lagkahnya, sakit. Itulah kata yang menggambarkan hatinya. Mungkin memang ia harus mengalah. Dua minggu cukup untuknya mengenal sosok Kana yang begitu sempurna di matanya. Walau kenyataannya takkan ada yang sempurna selain Tuhan. Namun sosok Kana bagai sosok spesial yang di kirim Tuhan untuknya. Tapi juga namanya hidup, harus tegar meski tak sesuai ekspektasi. Dengan langkah yang di perlambat, Dwiky meninggalkan taman kampus.
...
“Maaf ya, now we are true friends.
Dwiyan, Dwiyan mundur. Ia tahu ini terlalu cepat, tapi dengan kehadirannya sungguh sangat mengubah kehidupannya.
...
Dwiky menatap nanar foto seorang gadis yang terpampang di layar ponselnya. Sejak awal, Kana sudah menarik perhatiannya. Bukan hanya cantik, gadis itu juga cerdas dan berpendirian baik. Namun ia rasa, segalanya tak harus memiliki, mungking cukup mengagumi, sebab keharusan memang  harus merelakan.
Dwiky mengangguk semangat, mencoba untuk menepis rasa yang tak seharusnya di rasakan. Dan pada akhirnya di rasakan juga. “Segalanya tak harus memiliki, mungking cukup mengagumi, sebab keharusan memang harus merelakan.
“Widih, kembaran gue raja diksi. Hobby baru ya!” seru Dwiyan yang tiba-tiba masuk ke kamar Dwiky.
Dwiky tercengat, benar-benar si Dwiyan ini berubah. Bagaimana mungking, setiap malam bahkan setiap bertatap mata, hanya sorot kebencian yang terpancar di mata elangnya.
Dwiky tersenyum kecil menanggapi kembarannya. “Apa gue harus percaya sama siasat lo it-
“Eitsssssss ... Bukan siasat tapi isyarat perdamaian bro,” jelas Dwiyan tak terima, namun ekspresinya tetap semangat mengibarkan bendera perdamaian.
Sudut bibir Dwiky kembali terangkat. “Sesukanya lo aja.”
“Kenapa ginisih?” protes Dwiyan.
“Kenapa apanya?”
“Kenapa sekarang lo yang dingin.”
“Ck. Gantian-
“Damn it! Tapi gue salut.”
“Salut?”
“Salut menghadapi manusia batu kayak gue, iya gak?” tanya Dwiyan meminta pembenaran.
Dwiky memberanikan diri menatap manik mata  milik kembarannya itu. “Sebangsat apapun lo, lo tetap adek gue, Yan.”
saat ini juga Dwiyan serasa di guncang hebat. Ada kebahagian tersendiri dan teristimewah yang ia rasakan.
“Apa gue harus percaya?”
“Harus!”
Detik berikutnya, secara bersamaan mereka bangkit dan tanpa unek-unek lagi, pelukan hangat menyambut keduanya. Pelukan rindu yang sebenarnya tak di pisahkan oleh jarak, hanya saja keduanya di kuasai oleh ego.
“Gue minta maaf. Selama ini pikiran gue kacau, selama ini gue salah mengartikan kasih sayang, selama ini gue terlalu egois dan selama ini gue menjadi adek yang-
“Selamanya bukan berarti tidak membawa perubahan, gue salut kok sama lo.”
Keduanya saling melepas pelukan dan saling bertukar senyuman.
“Kana! Lo jadian?” tanya Dwiky.
Dwiyan memalingkan wajahnya, ada rasa tak enak, tapi harus ia jawab.
“GUE DI TOLAK!”
Seketika tawa Dwiky meledak. “Dosa gak sih kalo gue ketawa, Yan.” Dwiky melanjutkan tawanya.
“PUAS!’’
Dwiyan menghentakkan kakinya keluar kamar Dwiky. Samar-samar ia masih mendengar suara Dwiky meneriakinya. Puas banget gue! Thanks you very much KEMBARAN!
Dikamarnya, Dwiyan tersenyum, ia senang semuanya kembali normal. Dan tanpa mereka sadari, kedua orang tuanya menyaksikan apa yang  terjadi, mereka bangga akhirnya Dwiyan bisa berpikir dengan dewasa dan tanpa paksaan dari seseorang.
...
Minggu pagi, Dwiyan dan Dwiky sepakat untuk main futsal bareng lagi. Setelah Sepuluh tahun terakhir mereka tidak merayakan kebersamaan sebagai saudara kembar. Tim Dwiky maupun tim Dwiyan sama-sama menunjukkan kehebatannya sampai suara seseorang mengehentikan permainan itu. “Akhirnya si kembar main juga.”
“Kana!” ucap Dwiky dan Dwiyan Bersamaan.
“Hai.” Kana menghampiri keduanya. Yang terjadi mereka berdua hanya memiliki mematung entah apa yang terjadi selanjutnya.
“Ka-mu ngapain di sini?” tanya Dwiky terbata-bata.
“Santai, Ky. Kana hanya penasaran sama si kembar. Yang  si kembar main juga .... Hahahahahhahah ...., “ tawa Aron, Alfareza, Fatur, Fakri, Bian dan Rais pecah saat itu juga.
“Apasih!?” ketus Dwiyan menatap ke arah mereka yang tertawa keras.
Kana tersenyum. “Udah, Yan. Gak usah di ladenin.”
Belum puas tertawa, Fatur kembali bersuara. “Na. Lo pilih siapa di antara si kembar ....,” Lagi-lagi Fatur dan yang lainnya kembali tertawa terlebih saat melihat Ekspresi si kembar.
Dengan suara lantang Kana berkata. “Aku gak akan pilih siapa-siapa. Karena keduanya sama-sama aku sayang dan-
“Cieeeeeeee,  asikkkkkk dahhhh, mantulllll,” serbu Alfareza yang paling heboh.
Dengan cepat Kana meluruskan. “Sayang banget sebagai sahabat, sahabat konyol, dingin dan sahabat baik yang humoris. Itu kenapa aku sayang. Tanpa konyol dan humoris, hidup gak akan bahagia!” papar Kana dan di akhiri senyumnya yang paling manis.
“Siap Bos. Semuanya akan normal kok, karena si konyol dan si humoris ini akan bersatu.” Dwiyan tersenyum dan merangkul pundak Dwiky.
“Auto bahagia,” ucap Dwiky pelan.
Kana teringat sesuatuh. “Yang bisa Dari kalian berdua apa ya?”
Alis keduanya saling bertautan. “Bau ketek kali ya?” lirik keduanya yang di respon Kana jijik.
Kana bergidik ngeri. “Jorok ihh  ...,”
Satu alasan yang membuat seseorang berubah adalah, kesalahan di masa lalu, keegoisan yang tinggi dan tidak peka terhadap keadaan. Sampai kita lupa, bahwa sebenarnya kita hanya perlu berpikir satu kali, satu untuk berubah dan satu untuk memperbaiki segalanya yang telah remuk walau tak akan pernah terbentuk lagi. Dan Tuhan tahu apa yang harus ia lakukan. Dan cinta tak selamanya harus berakhir dengan dengan kalimat “Will you be my girlfriend?” Sesekali harus berakhir “Maaf ya, now we are true friends.”

LISA DAVINCI






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara logika dan perasaan

Antara Logika Dan Perasaan Kadang-kadang kita di hadapkan dengan yang namanya pilihan. Dalam memilih kita selalu di hadapkan dengan yang satu dengan yang lain. Itulah gunanya mengapa kita harus mempertimbangkan logika dan perasaan.  Logika, kita berpikir menggunakan otak sedangkan perasaan kita berpikir menggunakan hati atau perasaan.  Keduanya harus di seimbangkan dalam menetukan tema yang kita lakukan dalam kehidupan. Terkadang hal yang kita anggap benar asalnya dari logika tetapi tidak sesuai dengan perasaan. Begitupun sebaliknya, hal yang kita anggap benar asalnya dari hati tapi tak sesuai ketentuan logika. Keduanya bertolak belakang namun sangat perlu di seimbang kan.  Buktinya saja, pria yang selalu menggunakan logikanya sedangkan wanita selalu menggunakan perasaannya. Contoh kecilnya, misalnya seorang cowok sangat peduli dengan si cewek padahal mererka tidak ada hubungan apa-apa. Nah, jadinya si cewek terlanjur baper. Pada akhirnya yang terjadi si co...

Gap Year Tak Seburuk Mimpi Burukmu

 Untuk teman-temanku yang tahun ini yang memilih Gap year..! Pilihanmu belum tentu tepat, tetapi kau sudah tepat memilih di antara banyaknya pertimbangan...  ... Ayok... Kita buka semangat baru...  Kadang kita sering menjadi bayi di umur delapan belas tahun. Kenapa? Ya, umur di mana kita sulit menerima kenyataan bahwa semuanya akan baik-baik saja padahal fakta yang terlihat jauh dari kata baik. Terlalu hidup dalam  ke pura-puraan Sungguh tidak enak. Banyaknya pertimbangan dari orang-orang terdekat membuat kita sulit menentukan mana yang terbaik. Mereka semua penting dalam hidup ini, tetapi hanya satu yang terbaik untuk diri, yaitu pilihan sendiri. Namun tak semudah masa kanak-kanak lagi. Dalam mengambil keputusan kita harus melihat banyaknya yang terlibat sampai kita buta mana yang terbaik, sampai kita tuli mana yang benar. Dari hal yang paling berat  adalah, tertekan di jalur pendidikan. Ini umpan, dia maunya ini kamu juga harus mau ini. Maunya itu kamu juga ha...

Kanaya dan Kanaja

Selalu Kanaja.  Seperti biasa, hari senin yang paling menyenangkan  di bawah sinar matahari dan  berkumpul sebagai rutinitas. Hari di mana Naya mengomel tanpa henti pada teman kelasnya yang tidak membawa atribut seperti topi, dasi, ikat pinggang bahkan kaos kaki yang sangat pendek. Hatinya sungguh tak enak saat teman-kelasnya banyak yang melanggar. Sebagai anggota osis, Naya sangat rajin mengingatkan namun untuk yang satu ini, Naya geleng kepala.  "Lo enggak capek apa? Tiap hari dihukum, belum lagi nama lo masuk daftar pelanggar setia. Bahkan lo sadar kalo elo itu ditertawai oleh 1000 siswa-siswi. Masih aja merasa unggulan?" Naja seolah tuli ketika cewek berwajah jutek ini marah-marah padanya. Biarlah Naya berkata semaunya, yang pasti Naja santai-santai saja.  "Ya iya dong. Diperhatikan berarti kita unggulan, dicerita berarti kita eksis, di gosip berarti kita keren, iya nggak?" balas Naja. "Bener-bener nih anaknya Pak Anton!" kesal Naya.  "Eh ... eh, ...