Langsung ke konten utama

Gap Year Tak Seburuk Mimpi Burukmu

 Untuk teman-temanku yang tahun ini yang memilih Gap year..!

Pilihanmu belum tentu tepat, tetapi kau sudah tepat memilih di antara banyaknya pertimbangan... 

...

Ayok... Kita buka semangat baru... 

Kadang kita sering menjadi bayi di umur delapan belas tahun. Kenapa? Ya, umur di mana kita sulit menerima kenyataan bahwa semuanya akan baik-baik saja padahal fakta yang terlihat jauh dari kata baik. Terlalu hidup dalam  ke pura-puraan Sungguh tidak enak. Banyaknya pertimbangan dari orang-orang terdekat membuat kita sulit menentukan mana yang terbaik. Mereka semua penting dalam hidup ini, tetapi hanya satu yang terbaik untuk diri, yaitu pilihan sendiri. Namun tak semudah masa kanak-kanak lagi. Dalam mengambil keputusan kita harus melihat banyaknya yang terlibat sampai kita buta mana yang terbaik, sampai kita tuli mana yang benar. Dari hal yang paling berat  adalah, tertekan di jalur pendidikan. Ini umpan, dia maunya ini kamu juga harus mau ini. Maunya itu kamu juga harus mau itu. Dan sampai akhirnya kita harus berakhir di satu titik yang tak pernah hinggap dalam benak.

Gap Year. Nganggur! Kata yang kedengarannya bikin enek. Ngapain nganggur? Bodoh! Bosan sekolah atau bagaimana? Gak lolos Negeri? Swasta aja!? Gak suka swasta? Sok-sokan ya, mau Negeri tapi mampunya di Swasta! Jawabannya simple! Enggak di terima di PTN impian. Kasihan sekaligus miris. Intinya nyesek kalo ditanya, kuliah dimana, dek? Gak kuliah, kak. Nganggur dulu! Menangis dan menyalahkan takdir? Eits....! Kalau kalian sepesimis itu, kalian bukan teman aku! Hehehe... Iya! Awalnya memang sedih ya, enggak apa-apa. Semua orang wajib merasakan jatuh dan gagal. Wajib! wajib gagal untuk tahu kesenangan. Setelah tiga tahun bertempur dengan banyaknya soal IPA dan IPS , berhadapan dengan banyak guru, hingga teman semua telah kita dapatkan selama dua belas tahun pendidikan. Hingga kita mendapatkan surprise di tahun 2020 yang benar-benar membuat kita memejamkan mata sejenak dan mencerna juga merekam setiap detiknya waktu yang berlalu. Okelah kita butuh istirahat. Jangan bersedih... Mungkin tahun ini tak berjodoh untuk kuliah, batinmu belum siap, kamu gagal masuk PTN impian, itu ada alasannya. Kamu belajar hebat? Belum tentu menjamin, bukan? Posisimu belum bergeser. Jangan galau, sebaiknya istirahat saja dulu. Jangan terlau berpikir negatif, bahwa kamu bego, bodoh dan tidak pantas berpendidikan.  Sobat...Akupun sama, aku Gap Year! Aku sedih, tapi manangis pun rasanya percuma dan tidak membantu rasa sakit, yang ada semakin brutal dalam berpikir dan menyimpan dendam pada diri sendiri. Aku sempat menyerah, tetapi setelah melihat matahari terbit dan tenggelam kembali...Aku sadar. Hidup tak selalu tentang kita, kita harus siap untuk gagal. Jangan berhenti belajar. Belajar bukan hanya tentang sekolah juga kampus. Dirumah pun jadi, bukan? Jadi, selagi kamu mau. Satu tahun bukan waktu yang singkat. Jadi setidaknya jangan buang-buang waktu untuk menangis, saatnya menciptakan apa yang ingin kamu ungkapkan. Tidak bisa dengan lisan, tulisan pun jadi. Jangan lupa senyum... Kita sekawan banyak. Dan juga kasih support buat kawan-kawan yang berhasil masuk PTN impiannya dan bisa kuliah yang tentunya  masih dalam situasi pandemi. Mereka hebat, dan pastinya kamu juga...! 

Jangan pesimis, ya, bahwa kita tertinggal. Kita tua setahun. Jangan! Semua itu bisikan setan. Ini pilihan. Dan pilihan ini telah banyak melewati pertimbangan. Bisa nikmati? Harus bisa. Kita tak bisa menjamin akan baik-baik saja setelah memutuskan pilihan. Tetapi itulah resikonya, kita tanggung jawab atas kesedihan. Jangan minta saran, tapi mintalah pengertian pada diri jika ini memang yang terbaik untukmu. Ingat pendidikan bukan hanya di sekolah dan kampus. Banyak media, terlebih sekarang sudah zamannya teknologi. Jangan mewek...! Bukan di tolak ya? Hanya diberi kesempatan untuk istirahat...Hehehe itu pemikiran positifnya. Jangan kecewa saat belum mampu menembus universitas impian...Aku pikir kita bisa berpikir logis... Artinya belum waktunya....Nanti ada saatnya. Ingat, kita membutuhkan kegagalan untuk mendapatkan kemajuan. Bukan hanya bumi yang berputar, kita juga...Tekanan pasti ada. Tapi yakinlah pada fakta...Setiap  kejadian pasti ada alsannya. Ayo buka lembaran baru, ada banyak hal yang harus kita jalankan...Okey! Tetap semangat dan jangan lupa tersenyum....! Salam hangat.















Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara logika dan perasaan

Antara Logika Dan Perasaan Kadang-kadang kita di hadapkan dengan yang namanya pilihan. Dalam memilih kita selalu di hadapkan dengan yang satu dengan yang lain. Itulah gunanya mengapa kita harus mempertimbangkan logika dan perasaan.  Logika, kita berpikir menggunakan otak sedangkan perasaan kita berpikir menggunakan hati atau perasaan.  Keduanya harus di seimbangkan dalam menetukan tema yang kita lakukan dalam kehidupan. Terkadang hal yang kita anggap benar asalnya dari logika tetapi tidak sesuai dengan perasaan. Begitupun sebaliknya, hal yang kita anggap benar asalnya dari hati tapi tak sesuai ketentuan logika. Keduanya bertolak belakang namun sangat perlu di seimbang kan.  Buktinya saja, pria yang selalu menggunakan logikanya sedangkan wanita selalu menggunakan perasaannya. Contoh kecilnya, misalnya seorang cowok sangat peduli dengan si cewek padahal mererka tidak ada hubungan apa-apa. Nah, jadinya si cewek terlanjur baper. Pada akhirnya yang terjadi si co...

Kanaya dan Kanaja

Selalu Kanaja.  Seperti biasa, hari senin yang paling menyenangkan  di bawah sinar matahari dan  berkumpul sebagai rutinitas. Hari di mana Naya mengomel tanpa henti pada teman kelasnya yang tidak membawa atribut seperti topi, dasi, ikat pinggang bahkan kaos kaki yang sangat pendek. Hatinya sungguh tak enak saat teman-kelasnya banyak yang melanggar. Sebagai anggota osis, Naya sangat rajin mengingatkan namun untuk yang satu ini, Naya geleng kepala.  "Lo enggak capek apa? Tiap hari dihukum, belum lagi nama lo masuk daftar pelanggar setia. Bahkan lo sadar kalo elo itu ditertawai oleh 1000 siswa-siswi. Masih aja merasa unggulan?" Naja seolah tuli ketika cewek berwajah jutek ini marah-marah padanya. Biarlah Naya berkata semaunya, yang pasti Naja santai-santai saja.  "Ya iya dong. Diperhatikan berarti kita unggulan, dicerita berarti kita eksis, di gosip berarti kita keren, iya nggak?" balas Naja. "Bener-bener nih anaknya Pak Anton!" kesal Naya.  "Eh ... eh, ...