Langsung ke konten utama

Kanaya dan Kanaja

Selalu Kanaja. 

Seperti biasa, hari senin yang paling menyenangkan  di bawah sinar matahari dan  berkumpul sebagai rutinitas. Hari di mana Naya mengomel tanpa henti pada teman kelasnya yang tidak membawa atribut seperti topi, dasi, ikat pinggang bahkan kaos kaki yang sangat pendek. Hatinya sungguh tak enak saat teman-kelasnya banyak yang melanggar. Sebagai anggota osis, Naya sangat rajin mengingatkan namun untuk yang satu ini, Naya geleng kepala. 

"Lo enggak capek apa? Tiap hari dihukum, belum lagi nama lo masuk daftar pelanggar setia. Bahkan lo sadar kalo elo itu ditertawai oleh 1000 siswa-siswi. Masih aja merasa unggulan?" Naja seolah tuli ketika cewek berwajah jutek ini marah-marah padanya. Biarlah Naya berkata semaunya, yang pasti Naja santai-santai saja. 

"Ya iya dong. Diperhatikan berarti kita unggulan, dicerita berarti kita eksis, di gosip berarti kita keren, iya nggak?" balas Naja.

"Bener-bener nih anaknya Pak Anton!" kesal Naya. 

"Eh ... eh, maksudnya apa nih anaknya Ibu Afifah."

"Lah Kok? Elo bawa-bawa nama Ibu gue!" protes Naya tak terima. 

"Enak aja! Lo duluan ya!" sembur Naja. 

"Naya, Naja!" keduanya menoleh. 

Naya menjawab, "Iya Pak."

"Naya, kamu ini bagaimana sih. Saya gak menyuruh kamu untuk berdebat dengan Naja, tapi minta kamu kasih hukuman. Buukan yang lain-lain!" tegas Pak Burhan. 

"Iya Pak."

"Kamu Naja, ikuti apa saja yang osis perintahkan."

"Iya Pak."

"Jangan iya-iya saja. Implementasinya dong, penerapan bukan ucapan belaka."

Keduanya mengangguk. 

Naya berlalu pamit dan Naja mulai menyusul di belakangnya. Ide jahil pun bermunculan di kepalanya. Sekali-kali cewek jutek harus diberi hadiah. Jangan ngambek terus, bawaannya pengen mukul orang aja. 

"Gue tuh sebenarnya kasihan dengan elo. Elo itu anak terpandang di komplek Apel. Elo anak dari pewaris perusahaan besar, Ibu elo orang yang baik, kakak elo semuanya good looking, adek elo bahkan terkenal karena jago bermain musik. Lah elo ... kayak elo bukan bagian dari mereka, dan lo tentu ngeselin banget Naj. Dan—"

Naya terkejut saat tak ada Naja di belakangnya. Entah sejak kapan cowok itu kabur. Emang dasar manusia ngeselin. Hobinya membuat orang susah. Ingin rasanya Naya segera melaporkan kebiasaan buruk Naja pada kedua orangtuanya. 

"HUAHHHH!"

"Arghhhhhhh!" teriak Naya sekeras mungkin. Ia kaget luar biasa. Melihat sosok Naja yang tiba-tiba berdiri dengan ekspresi menyebalkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara logika dan perasaan

Antara Logika Dan Perasaan Kadang-kadang kita di hadapkan dengan yang namanya pilihan. Dalam memilih kita selalu di hadapkan dengan yang satu dengan yang lain. Itulah gunanya mengapa kita harus mempertimbangkan logika dan perasaan.  Logika, kita berpikir menggunakan otak sedangkan perasaan kita berpikir menggunakan hati atau perasaan.  Keduanya harus di seimbangkan dalam menetukan tema yang kita lakukan dalam kehidupan. Terkadang hal yang kita anggap benar asalnya dari logika tetapi tidak sesuai dengan perasaan. Begitupun sebaliknya, hal yang kita anggap benar asalnya dari hati tapi tak sesuai ketentuan logika. Keduanya bertolak belakang namun sangat perlu di seimbang kan.  Buktinya saja, pria yang selalu menggunakan logikanya sedangkan wanita selalu menggunakan perasaannya. Contoh kecilnya, misalnya seorang cowok sangat peduli dengan si cewek padahal mererka tidak ada hubungan apa-apa. Nah, jadinya si cewek terlanjur baper. Pada akhirnya yang terjadi si co...

Gap Year Tak Seburuk Mimpi Burukmu

 Untuk teman-temanku yang tahun ini yang memilih Gap year..! Pilihanmu belum tentu tepat, tetapi kau sudah tepat memilih di antara banyaknya pertimbangan...  ... Ayok... Kita buka semangat baru...  Kadang kita sering menjadi bayi di umur delapan belas tahun. Kenapa? Ya, umur di mana kita sulit menerima kenyataan bahwa semuanya akan baik-baik saja padahal fakta yang terlihat jauh dari kata baik. Terlalu hidup dalam  ke pura-puraan Sungguh tidak enak. Banyaknya pertimbangan dari orang-orang terdekat membuat kita sulit menentukan mana yang terbaik. Mereka semua penting dalam hidup ini, tetapi hanya satu yang terbaik untuk diri, yaitu pilihan sendiri. Namun tak semudah masa kanak-kanak lagi. Dalam mengambil keputusan kita harus melihat banyaknya yang terlibat sampai kita buta mana yang terbaik, sampai kita tuli mana yang benar. Dari hal yang paling berat  adalah, tertekan di jalur pendidikan. Ini umpan, dia maunya ini kamu juga harus mau ini. Maunya itu kamu juga ha...